News

Loading...

Jumat, 14 September 2012

Laporan Pendahuluan Kista Ovarium

A. Pengertian Kista ovarium adalah pertumbuhan sel yang berlebihan / abnormal pada ovarium yang membentuk seperti kantong (Agusfarly, 2008). Kista ovarium merupakan suatu pengumpulan cairan yang terjadi pada indung telur atau ovarium. Cairan yang terkumpul ini dibungkus oleh semacam selaput yang terbentuk dari lapisan terluar dari ovarium. Kista adalah kantong berisi cairan, kista seperti balon berisi air, dapat tumbuh di mana saja dan jenisnya bermacam-macam. Kista yang berada di dalam atau permukaan ovarium (indung telur) disebut kista ovarium atau tumor ovarium. Kista ovarium sering terjadi pada wanita di masa reproduksinya. Sebagian besar kista terbentuk karena perubahan kadar hormon yang terjadi selama siklus haid, produksi dan pelepasan sel telur dari ovarium. Kista berarti kantung yang berisi cairan. Kista ovarium (atau kista indung telur) berarti kantung berisi cairan, normalnya berukuran kecil, yang terletak di indung telur (ovarium). Kista indung telur dapat terbentuk kapan saja, pada masa pubertas sampai menopause, juga selama masa kehamilan. B. Etiologi Sampai sekarang ini penyebab dari Kista Ovarium belum sepenuhnya dimengerti, tetapi beberapa teori menyebutkan adanya gangguan dalam pembentukan estrogen dan dalam mekanisme umpan balik ovarium-hipotalamus. Kista ovarium disebabkan oleh gangguan (pembentukan) hormon pada hipotalamus, hipofisis, dan ovarium, dan juga gagalnya sel telur (folikel) untuk berovulasi. Kista ovarium terbentuk oleh bermacam sebab. Penyebab inilah yang nantinya akan menentukan tipe dari kista. Diantara beberapa tipe kista ovarium, tipe folikuler merupakan tipe kista yang paling banyak ditemukan. Kista jenis ini terbentuk oleh karena pertumbuhan folikel ovarium yang tidak terkontrol. Folikel adalah suatu rongga cairan yang normal terdapat dalam ovarium. Pada keadaan normal, folikel yang berisi sel telur ini akan terbuka saat siklus menstruasi untuk melepaskan sel telur. Namun pada beberapa kasus, folikel ini tidak terbuka sehingga menimbulkan bendungan carian yang nantinya akan menjadi kista. Cairan yang mengisi kista sebagian besar berupa darah yang keluar akibat dari perlukaan yang terjadi pada pembuluh darah kecil ovarium. Pada beberapa kasus, kista dapat pula diisi oleh jaringan abnormal tubuh seperti rambut dan gigi. Kista jenis ini disebut dengan Kista Dermoid. Factor yang menyebabkan gajala kista meliputi; 1. Gaya hidup tidak sehat. Diantaranya; a. Konsumsi makanan yang tinggi lemak dan kurang serat b. Zat tambahan pada makanan c. Kurang olah raga d. Merokok dan konsumsi alcohol e. Terpapar denga polusi dan agen infeksius f. Sering stress 2. Faktor genetic. Dalam tubuh kita terdapat gen gen yang berpotensi memicu kanker, yaitu yang disebut protoonkogen, karena suatu sebab tertentu, misalnya karena makanan yang bersifat karsinogen , polusi, atau terpapar zat kimia tertentu atau karena radiasi, protoonkogen ini dapat berubah menjadi onkogen, yaitu gen pemicu kanker C. Tipe – Tipe Kista Ovarium 1. Tipe Kista Normal a. Kista Fungsional Ini merupakan jenis kista ovarium yang paling banyak ditemukan. Kista ini berasal dari sel telur dan korpus luteum, terjadi bersamaan dengan siklus menstruasi yang normal. Kista fungsional akan tumbuh setiap bulan dan akan pecah pada masa subur, untuk melepaskan sel telur yang pada waktunya siap dibuahi oleh sperma. Setelah pecah, kista fungsional akan menjadi kista folikuler dan akan hilang saat menstruasi. Kista fungsional terdiri dari: kista folikel dan kista korpus luteum. Keduanya tidak mengganggu, tidak menimbulkan gejala dan dapat menghilang sendiri dalam waktu 6-8 minggu. 2. Tipe kista ovarium abnormal Maksud kata “abnormal” disini adalah tidak normal, tidak umum, atau tidak biasanya (ada, timbul, muncul, atau terjadi). Semua tipe atau bentuk kista -selain kista fungsional- adalah kista abnormal, misalnya: a. Cystadenoma Merupakan kista yang berasal dari bagian luar sel indung telur. Biasanya bersifat jinak, namun dapat membesar dan dapat menimbulkan nyeri. b. Kista coklat (endometrioma). Merupakan endometrium yang tidak pada tempatnya. Disebut kista coklat karena berisi timbunan darah yang berwarna coklat kehitaman c. Kista dermoid Merupakan kista yang yang berisi berbagai jenis bagian tubuh seperti kulit, kuku, rambut, gigi dan lemak. Kista ini dapat ditemukan di kedua bagian indung telur. Biasanya berukuran kecil dan tidak menimbulkan gejala. d. Kista endometriosis Merupakan kista yang terjadi karena ada bagian endometrium yang berada di luar rahim. Kista ini berkembang bersamaan dengan tumbuhnya lapisan endometrium setiap bulan sehingga menimbulkan nyeri hebat, terutama saat menstruasi dan infertilitas. e. Kista hemorrhage Merupakan kista fungsional yang disertai perdarahan sehingga menimbulkan nyeri di salah satu sisi perut bagian bawah. f. Kista lutein Merupakan kista yang sering terjadi saat kehamilan. Beberapa tipe kista lutein antara lain: 1) Kista granulosa lutein Merupakan kista yang terjadi di dalam korpus luteum ovarium yang fungsional. Kista yang timbul pada permulaan kehamilan ini dapat membesar akibat dari penimbunan darah yang berlebihan saat menstruasi dan bukan akibat dari tumor. Diameternya yang mencapai 5-6 cm menyebabkan rasa tidak enak di daerah panggul. Jika pecah, akan terjadi perdarahan di rongga perut. Pada wanita yang tidak hamil, kista ini menyebabkan menstruasi terlambat, diikuti perdarahan yang tidak teratur. 2) Kista theca lutein Merupakan kista yang berisi cairan bening dan berwarna seperti jerami. Timbulnya kista ini berkaitan dengan tumor ovarium dan terapi hormone g. Kista polikistik ovarium Merupakan kista yang terjadi karena kista tidak dapat pecah dan melepaskan sel telur secara kontinyu. Biasanya terjadi setiap bulan. Ovarium akan membesar karena bertumpuknya kista ini. Untuk kista polikistik ovarium yang menetap (persisten), operasi harus dilakukan untuk mengangkat kista tersebut agar tidak menimbulkan gangguan dan rasa sakit. Kista ovarium ada yang bersifat jinak dan ganas (kanker). Biasanya kista yang berukuran kecil bersifat jinak. Kista ovarium sering ditemukan secara tidak sengaja pada pemeriksaan rutin. D. Patofisiologi Fungsi ovarium yang normal tergantung kepada sejumlah hormone dan kegagalan pembentukan salah satu hormone tersebut bisa mempengaruhi fungsi ovarium. Ovarium tidak akan berfungsi secara normal jika tubuh wanita tidak menghasilkan hormone hipofisa dalam jumlah yang tepat. Fungsi ovarium yang abnormal kadang menyebabkan penimbunan folikel yang terbentuk secara tidak sempurna di dalam ovarium. Folikel tersebut gagal mengalami pematangan dan gagal melepaskan sel telur, terbentuk secara tidak sempurna di dalam ovarium karena itu terbentuk kista di dalam ovarium. Setiap hari, ovarium normal akan membentuk beberapa kista kecil yang disebut Folikel de Graff. Pada pertengahan siklus, folikel dominan dengan diameter lebih dari 2.8 cm akan melepaskan oosit mature. Folikel yang rupture akan menjadi korpus luteum, yang pada saat matang memiliki struktur 1,5 – 2 cm dengan kista ditengah-tengah. Bila tidak terjadi fertilisasi pada oosit, korpus luteum akan mengalami fibrosis dan pengerutan secara progresif. Namun bila terjadi fertilisasi, korpus luteum mula-mula akan membesar kemudian secara gradual akan mengecil selama kehamilan. Kista ovari yang berasal dari proses ovulasi normal disebut kista fungsional dan selalu jinak. Kista dapat berupa kista folikular dan luteal yang kadang-kadang disebut kista theca-lutein. Kista tersebut dapat distimulasi oleh gonadotropin, termasuk FSH dan HCG. Kista fungsional multiple dapat terbentuk karena stimulasi gonadotropin atau sensitivitas terhadap gonadotropin yang berlebih. Kista folikel dan luteal, kelainan yang tidak berbahaya ini berasal dari folikel graaf yang tidak pecah atau folikel yang sudah pecah dan segera menutup kembali. Kista demikian seringnya adalah multipel dan timbul langsung di bawah lapisan serosa yang menutupi ovarium, biasanya kecil, dengan diameter 1- 1,5 cm dan berisi cairan serosa yang bening, tetapi ada kalanya penimbunan cairan cukup banyak, sampai mencapai diameter 4-5 cm, sehingga teraba massa dan menimbulkan sakit pada daerah pelvis. Pada neoplasia tropoblastik gestasional (hydatidiform mole dan choriocarcinoma) dan kadang-kadang pada kehamilan multiple dengan diabetes, HCg menyebabkan kondisi yang disebut hiperreaktif lutein. Pasien dalam terapi infertilitas, induksi ovulasi dengan menggunakan gonadotropin (FSH dan LH) atau terkadang clomiphene citrate, dapat menyebabkan sindrom hiperstimulasi ovari, terutama bila disertai dengan pemberian HCG. Kista neoplasia dapat tumbuh dari proliferasi sel yang berlebih dan tidak terkontrol dalam ovarium serta dapat bersifat ganas atau jinak. Neoplasia yang ganas dapat berasal dari semua jenis sel dan jaringan ovarium. Sejauh ini, keganasan paling sering berasal dari epitel permukaan (mesotelium) dan sebagian besar lesi kistik parsial. Jenis kista jinak yang serupa dengan keganasan ini adalah kistadenoma serosa dan mucinous. Tumor ovari ganas yang lain dapat terdiri dari area kistik, termasuk jenis ini adalah tumor sel granulosa dari sex cord sel dan germ cel tumor dari germ sel primordial. Teratoma berasal dari tumor germ sel yang berisi elemen dari 3 lapisan germinal embrional; ektodermal, endodermal, dan mesodermal. E. Manifestasi Klinis Sebagian besar wanita tidak menyadari bila dirinya menderita kista. Seandainya menimbulkan gejala maka keluhan yang paling sering dirasakan adalah rasa nyeri pada perut bagian bawah dan pinggul. Rasa nyeri ini timbul akibat dari pecahnya dinding kista, pembesaran kista yang terlampau cepat sehingga organ disekitarnya menjadi teregang, perdarahan yang terjadi di dalam kista dan tangkai kista yang terpeluntir 1. Sering tanpa gejala. 2. Nyeri saat menstruasi. 3. Nyeri di perut bagian bawah. 4. Nyeri pada saat berhubungan badan. 5. Nyeri pada punggung terkadang menjalar sampai ke kaki. 6. Terkadang disertai nyeri saat buang air kecil dan/atau buang air besar. 7. Siklus menstruasi tidak teratur; bisa juga jumlah darah yang keluar banyak. 8. Perubahan menstruasi. 9. Rasa sakit atau sensasi nyeri saat bersenggama (dyspareunia). 10. Gangguan pencernaan yang menetap, seperti: kembung, mual. 11. Perubahan kebiasaan buang air besar, contoh: sukar buang air besar (= sembelit, konstipasi, obstipasi) 12. Perubahan berkemih, misalnya: sering kencing. 13. Perut membesar, salah satu cirinya adalah celana terasa sesak. 14. Kehilangan selera makan atau rasa cepat kenyang (perut terasa penuh). 15. Rasa mudah capek atau rasa selalu kurang tenaga. 16. Rasa nyeri pada (tulang) punggung bawah (Low back pain). F. Komplikasi 1. Perdarahan dalam kista Perlahan menimbulan rasa sakit dan kemudian mendadak menjadi akut abdomen. 2. Torsi tangkai kista. Dapat terjadi pada tumor dengan panjang tangkai sekitar 5 cm atau lebih dan ukurannya masih kecil dan gerakan yang terbatas .Sering terjadi pada saat hamil dan asca partum dan saat terjadi akut abdomen. 3. Robekan dinding kista Disebabkan oleh trauma langsung pada kista ovari terjadi saat torsikista dan dapat menimbulkan perdarahan akut abdomen Infeksi kista. Menimbulkan gejala dolor , kolor dan fungsi olesa.perut tegang dan panas hasil pemeriksaan laboratorium menujukkan gejala infeksi 4. Degenerasi ganas. Keganasan ovarium silent killer diketahui setelah stadium lanjut sedangkan perubahan tidak jelas Gejala keganasan kista ovarii:tumor cepat membesar ,berbenjol benjol,terdapat asites ,tubuh bagian atas kering sedangkan bagian bawah terjadi oedema. G. Pemeriksaan Penunjang 1. Pap smear : untuk mengetahui displosia seluler menunjukan kemungkinan adaya kanker / kista. 2. Ultrasound / scan CT : membantu mengindentifikasi ukuran / lokasi massa. 3. Laparoskopi : dilakukan untuk melihat tumor, perdarahan, perubahan endometrial. 4. Hitung darah lengkap : penurunan Hb dapat menununjukan anemia kronis sementara penurunan Ht menduga kehilangan darah aktif, peningkatan SDP dapat mengindikasikan proses inflamasi / infeksi. H. Penatalaksanaan 1. Pengangkatan kista ovarium yang besar biasanya adalah melalui tindakan bedah, misal laparatomi, kistektomi atau laparatomi salpingooforektomi. 2. Kontrasepsi oral dapat digunakan untuk menekan aktivitas ovarium dan menghilangkan kista. 3. Perawatan pasca operasi setelah pembedahan untuk mengangkat kista ovarium adalah serupa dengan perawatan setelah pembedahan abdomen dengan satu pengecualian penurunan tekanan intra abdomen yang diakibatkan oleh pengangkatan kista yang besar biasanya mengarah pada distensi abdomen yang berat. Hal ini dapat dicegah dengan memberikan gurita abdomen sebagai penyangga. 4. Tindakan keperawatan berikut pada pendidikan kepada klien tentang pilihan pengobatan dan manajemen nyeri dengan analgetik / tindakan kenyamanan seperti kompres hangat pada abdomen atau teknik relaksasi napas dalam, informasikan tentang perubahan yang akan terjadi seperti tanda – tanda infeksi, perawatan insisi luka operasi. ( Lowdermilk.dkk. 2005:273 ) I. Penatalaksanaan Keperawatan Perawat melakukan asuhan keperawatan dengan menggunakan proses keperawatan. Dengan menggunakan proses keperawatan, perawat memakai latar belakang, pengetahuan yang komprehensif untuk mengkaji status kesehatan klien, mengidentifikasi masalah dan diagnosa merencanakan intervensi, mengimplementasikan rencana dan mengevaluasi intervensi keperawatan. 1. Pengkajian Pengkajian merupakan tahap awal dari proses keperawatan pengumpulan data yang akurat dan sistematis akan membantu penentuan status kesehatan dan pola pertahanan klien, mengidentifikasi kekuatan, dan kebutuhan klien. Serta merumuskan diagnosis keperawatan. a. Identitas klien Yang meliputi ; nama, jenis kelamin, umur, agama / kepercayaan, status perkawinan, pendidikan, pekerjaan, suku/bangsa, alamat, no register, no kamar, dan diagnosa medis b. Data fisiologis : keluhan utama atau riwayat keluhan utama Pemeriksaan fisik : 1) Keterbatasan aktivitas 2) Perubahan TTV 3) Tanda – tanda distensi : merintih kesakitan keletihan 4) Pemeriksaan abdomen c. Riwayat kesehatan masa lalu atau riwayat penyakit dahulu d. Riwayat kesehatan keluarga e. Riwayat psikososial 2. Analisis data Data yang telah dikumpulkan kemudian dianalisa untuk menentukan masalah klien. Analisa merupakan proses intelektual yang meliputi kegiatan mentabulasi, menyeleksi, mengklasifikasi data, mengelompokkan, mengkaitkan, menentukan kesenjangan informasi, membandingkan dengan standart, menginterpretasikan serta akhirnya dapat membuat kesimpulan tentang masalah itu. 3. Diagnosa Keperawatan yang Mungkin Muncul pada kasus Kista Ovarium Pre Operasi a. Nyeri akut b.d agen injury biologis b. Intoleransi aktivitas b.d kelemahan umum c. Ansietas b.d ancaman atau perubahan pada status kesehatan d. Defisit pengetahuan b.d kurangnya pemahaman terhadap sumber – sumber informasi Post Operasi a. Nyeri b/d injuri fisik ( pasca insisi pembedahan ) b. Ansietas b/d perubahan status kesehatan setelah operasi. c. Resiko infeksi dengan factor resiko tindakan invasive, pembedahan dan perawatan luka operasi yang tidak adekuat . d. Resiko cidera dengan faktor resiko eksternal (Malnutrisi) Asuhan keperawatan Pre Operasi No Diagnosa keperawatan NOC NIC 1 Nyeri b/d injuri biologis a. Tingkat kenyamanan b. Perilaku mengendalikan nyeri c. Tingkat nyeri Kriteria Evaluasi : a. Menunjukkan teknik relaksasi secara individual b. Melaporkan nyeri pada perawatan kesehatan c. Menggunakan tindakan nyeri dengan penggunan analgesic dan non analgesik secara tepat a. Pemberian analgesic b. Penalaksanaan nyeri c. Sedasi sadar. Aktivitas Keperawatan : a. Gunakan laporan pasien sendiri sebagai pilihan untuk mengumpulkan data pengakajian b. Minta pasien untuk menilai nyeri ( 0 – 10 ) c. Observasi ketidaknyamanan isyarat nonverbal d. Mengajarkan teknik distraksi dan relaksasi. 2 Intoleransi aktivitas b/d kelemahan umum a. Daya tahan b. Penghematan energy c. Perawatan diri: aktivitas kehidupan sehari-hari Kriteria evaluasi a. Pasien akan mentoleransi aktivitas b. Menunjukkan penghematan energy c. Menyeimbangkan atktivitas dan istirahat a. Terapi aktivitas b. Pengelolaan energy Aktivitas keperawatan: a. Kaji respon emosi, social dan spiritual terhadap aktivitas b. Tentukan penyebab keletihan c. Pantau/dokumentasikan pola istirahat dan lamanya waktu tidur d. Pantau asupan nutrisi untuk memastikan keadekuatan sumber-sumber energi 3 Ansietas b/d perubahan status kesehatan setelah a. Kontrol ansietas b. Koping c. Kontrol impuls Kriteria Evaluasi : a. Mengidentifikasi gejala yang merupakan indicator ansietas b. Tidak menunjukkan tindakan dan perilaku agresif c. Mengomunikasikan kebutuhan dan perasaan negative secara tepat. a. Pengurangan ansietas Aktivitas keperawatan : a. Kaji dan dokumentasi tingkat ansietasnya b. Instruksikan kepada pasien mengenai teknik relaksasi c. Jelaskan semua prosedur termasuk sensasi yang biasanya dirasakan selama prosedur. 4 Defisit pengetahuan b/d kurangnya pemahaman terhadap sumber-sumber informasi a. Pengetahuan : proses penyakit Kriteria evaluasi: a. Menunjukkan pengetahuan: proses penyakit kista ovarium b. Mampu mengulang kembali informasi yang diberikan a. Pengajaran, proses penyakit Aktivitas keperawatan: a. Cek keakuratan umpan balik dari klien b. Tentukan kebutuhan pengajaran klien c. Lakukan penilaian tingkat pengetahuan klien d. Memberikan pengajaran sesuai dengan tingkat pemahamannya Asuhan Keperawatan Post Operasi No Diagnosa Keperawatan NOC NIC 1 Nyeri b/d injuri fisik ( pasca insisi pembedahan ) a. Tingkat kenyamanan b. Perilaku mengendalikan nyeri c. Tingkat nyeri Kriteria Evaluasi : a. Menunjukkan teknik relaksasi secara individual b. Melaporkan nyeri pada perawatan kesehatan c. Menggunakan tindakan nyeri dengan penggunan analgesic dan nonanalgesik secara tepat a. Pemberian analgesic b. Penalaksanaan nyeri c. Sedasi sadar. Aktivitas Keperawatan : a. Gunakan laporan pasien sendiri sebagai pilihan untuk mengumpulkan data pengakajian b. Minta pasien untuk menilai nyeri ( 0 – 10 ) c. Observasi ketidaknyamanan isyarat nonverbal d. Mengajarkan teknik distraksi dan relaksasi. 2 Ansietas b/d perubahan status kesehatan setelah operasi. a. Kontrol ansietas b. Koping c. Kontrol impuls Kriteria Evaluasi : a. Mengidentifikasi gejala yang merupakan indicator ansietas b. Tidak menunjukkan tindakan dan perilaku agresif c. Mengomunikasikan kebutuhan dan perasaan negative secara tepat. a. Pengurangan ansietas Aktivitas keperawatan : a. Kaji dan dokumentasi tingkat ansietasnya b. Instruksikan kepada pasien mengenai teknik relaksasi c. Jelaskan semua prosedur termasuk sensasi yang biasanya dirasakan selama prosedur. 3 Resiko infeksi dengan factor resiko tindakan invasive, pembedahan dan perawatan luka operasi yang tidak adekuat . a. Status imun b. Pengetahuan : pengendalian infeksi c. Pengendalian resiko d. Deteksi resiko Kriteria evaluasi : a. Terbebas dari tanda dan gejala infeksi b. Menunjukkan hygiene pribadi yang adekuat c. Melaporkan tanda dean gejala infeksi serta mengikuti prosedur pemantauan a. Pengendalian infeksi b. Perlindungan terhadap infeksi. Aktivitas keperawatan : a. Pantau tanda dan gejala infeksi b. Kaji factor yang meningkatkan serangan Infeksi c. Lakukan perawatan luka yang benar dan hygiene. 4 Resiko cidera dengan faktor resiko eksternal (Malnutrisi) a. Pengendalian resiko b. Perilaku keamanan : pencegahan jatuh. Kriteria Evaluasi : a. Mempersiapkan lingkungan yang aman b. Mengidentifikasi risiko yang meningkatkan kerentanan terhadap cidera. c. Menghindari cidera fisik d. Memberi perawatan yang baik dan kontak social lainnya. a. Mencegah jatuh Aktivitas keperawatan : a. Berikan materi pendidikan yang berhubungan dengan strategi dan tindakan untuk mencegah cidera. b. Berikan informasi mengenai bahaya lingkungan dan karakteristiknya. c. Tempatkan bel atau lampu panggil pada tempat yang mudah dijangkau pasien yang bergantung pada setiap waktu. d. Jauhi bahaya lingkungan e. Bantu pasien dalam bergerak kalau diperlukan DAFTAR PUSTAKA Sarwono P. ( 1999). Ilmu Kandungan, Yayasan bina pustaka, edisi 2, Jakarta. Mansjoer, Arif.1999. Kapita Selekta Kedokteran Edisi 3. Jakarta; Media Aesculapius. FKUI Mohtar Rustam. 1999. Sinopsis Obstetris, Obstetri Fisiologis, Obstetri Patologi Edisi 2. Jakarta; EGC. Prawirto Hardjo, Sarwono. 1997. Ilmu Kandungan Edisi 2. Jakarta; Yayasan Bina Pustaka. http://hasgurstika.blogspot.com/2011/02/askep-kista-ovarium.html http://healthreference-ilham.blogspot.com/2008/07/kondas-kista ovarium.html

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar